Those not put off by the experiences of Eyjafjallajökull and Grimsvotn volcanoes can descend instead into the (reassuringly) dormant Thrihnukagigur volcano crater from May to September, and this month’s 24-hour days bring with them the chance to do the tour in the light of Iceland’s midsummer midnight sun.
June 2013
1 post
May 2013
1 post
March 2013
2 posts
February 2013
5 posts

The image above taken from EO-1 Advanced Land Imagery Satellite (May 6th, 2012), shows the remnant of montane forest in Java (deep green colored patch), under serious threat of anthropogenic impacts such as land cover change and illegal logging.
According to Van Steenis (Dutch Botanist, 1972), Mt. Papandayan was floristically rich, and it will be an irony of recorded history if all the forest destroyed without any effort to explore and understand the living treasure inside of it.
Penulis: A.W. Subarkah, Tabloid BOLA edisi no. 2, Jumat 9 Maret 1984
Reputasinya di Jakarta tak disangsikan lagi. SMTA Kolese Kanisius memang serba menonjol di segala bidang kegiatan siswa. Tidak hanya dalam mutu pelajarannya, tapi juga kegiatan olahraganya. Di bidang terakhir ini tak sedikit siswanya yang kemudian mencapai tingkat nasional.
Sandy Halim, misalnya, pemain voli nasional yang kini memperkuat klub Veni-Vidi-Vici, adalah alumnus Kanisius. Kemudian Paido, mahasiswa Fakultas Ekonomi UI yang berhasil mendaki puncak Cartenz, juga dari sana. Begitu pun atlet terbang layang Rudi Harto dan Dimitri.
Sementara Daniel Arif Budiman, perenang yang meraih enam medali emas nomor perorangan di Kejurnas Cibubur akhir tahun lalu, malah masih siswa di sekolah itu. Ia kini masuk pelatnas untuk persiapan ke SEA Games mendatang di Brunei.
Sekolah asuhan Pater Drs. Drost SJ itu kini mempunyai 700 siswa yang tersebar di 20 kelas. Semuanya pria. Jadi tak heran kalau saat lonceng istirahat berbunyi ramainya tak ketulungan, seperti pasar burung saja layaknya, kata sang Pater.

Berlatih serius di halaman yang sepi. (Dok. Tabloid BOLA)
Tut Wuri
Juga sekolah yang dipimpin Pater Drost ini punya cara sendiri dalam mengelola kegiatan ekstra kurikular. Untuk kegiatan olahraga, misalnya, siswa dibiarkan berinisiatif sendiri, termasuk memilih pelatih, sementara guru mendukung di belakang. Semacam tut wuri handayani-nya Taman Siswa, begitulah.
Tak kurang dari enam cabang olahraga dihidupkan di sini sebagai kegiatan ekstra kurikular. Di antaranya, bolabasket, voli, tenis meja, karate, taekwondo, dan bola tangan. Cabang olahraga lebih berat pun ada, seperti terbang layang dan mendaki gunung.
Setiap anak yang mengikuti kegiatan diharuskan membayar iuran Rp 1.000 sebulan untuk tiap kegiatan yang diminati. Ini diperlukan untuk membayar pelatih dan membeli peralatan. “Sebetulnya masih kurang, tetapi kekurangannya ditomboki sekolah,” ujar Pater FX Widyatmaka SJ yang bertindak selaku moderator para siswa.
Walaupun begitu, sekolah bukannya tidak mengalami kesulitan untuk mengatur kegiatan ini. Olahraga sore, misalnya, seringkali bentrok waktunya dengan praktikum. Mana yang didulukan? Olahraga atau praktikum? Jelas basket, voli, dan sebagainya itu hanya kegiatan ekstra. Jadi tak jarang olahraga sore distop sama sekali saat menjelang ujian atau ulangan umum.
Tetapi, di luar saat yang dua itu, kegiatan sore sedapat mungkin dipaksakan harus ada. Ini tak lain untuk menghindari gelagat kurang menguntungkan kalau siswa terlalu banyak punya waktu luang. Nongkrong tanpa kerja, ngebut di jalan umum, berkelahi, barangkali merupakan pemandangan klise yang mungkin terjadi di saat demikian. “Di sinilah peranan penting kegiatan sore - mengarahkan keisengan mereka,” ujar Pater Widya.
“Juga bagus buat orangtua. Mereka senang, tak perlu lagi mengawasi anak siang hari,” tambah Pater Drost.
Tak Ada Prioritas
Namun demikian, Pater Drost tak hendak mengekang sama sekali kebebasan siswanya. Menurutnya, siswa SMTA harus punya kebebasan orang dewasa karena mereka memang sudah dewasa. Karenanya, sekolah pun tak merintangi mereka untuk mengikuti
kegiatan di luar sekolah, asal yang positif.
Dengan ketentuan demikian, memang banyak siswa yang ikut klub di luar Kanisius. Di antaranya mereka ikut klub tenis, bulutangkis, dan klub-klub cabang olahraga lainnya. “Yah, itu kami anggap sebagai kegiatan di rumah. Sejauh dilakukan di luar jam sekolah dan tidak mengatasnamakan sekolah, kami kira tak menjadi masalah,” ujar Pater Widya.
Tapi ada satu hal penting yang perlu diperhatikan, sekolah tak akan memberikan prioritas apa pun bagi siswa yang menjadi juara dalam salah satu cabang olahraga. Tak akan mengangkat nilai mata pelajarannya di sekolah selain, mungkin, mata pelajaran olahraga. Inilah pendirian yang selama Ini dipegang teguh oleh sekolah-sekolah di semua kolese, baik De Loyola di Semarang, De Britto di Yogyakarta maupun Kanisius sendiri.
“Ketentuan ini diberlakukan untuk mendidik si siswa itu sendiri. Mereka harus belajar membagi waktunya antara pelajaran dan kegiatan ekstra. Dengan begitu akan tumbuh sikap menghargai waktu dan mampu memilih mana yang penting dalam hidupnya,” tambah Pater Widya.
Pelatih
Namun di balik keberhasilan sekolah ini membina kegiatan olahraga bagi siswanya, tentu pelatih juga ikut banyak menanamkan sahamnya. Seperti dikatakan sendiri oleh Pak Rudjito, pelatih yang sudah mengabdikan dirinya lebih dari dua puluh tahun di SMTA Kanisius. Peranan pelatih memang sangat menentukan.
“Anak-anak bisa saja main tanpa pelatih, tetapi mereka tak akan mencapai kemajuan. Untuk mengejar prestasi, diperlukan pelatih yang ahli di bidangnya,” kata Pak Rudjito.
Karenanya, Rudjito tak tanggung-tanggung menunjuk dua pelatih ahli untuk bolabasket. Kedua-duanya - Togar dan Saud - diambil dari klub Liga Bolabasket Utama (Gabatama) Indonesia Muda. Masing-masing dipekerjakan untuk melatih para siswa SMTP dan SMTA sekaligus.
Begitu juga untuk cabang olahraga beladiri. Johan Yamin, bekas siswa Kanisius angkatan tahun 1981 dari perkumpulan karate Goju Kai, masih diminta terus melatih di sana. Yamin memang seorang karateka yang tekun. Walaupun para siswa yang berlatih hanya sedikit, namun mahasiswa tingkat dua Akademi Teknik Komputer ini tak pernah absen dari acara latihan.
Selain memberikan latihan karate, ia juga mengajarkan cara penggunaan komputer kepada para siswa maupun guru yang berminat.
Tetapi untuk beberapa cabang olahraga, SMTA Kanisius ternyata masih kekurangan pelatih. Voli yang banyak digemari siswa masih dipegang sendiri oleh Pak Rudjito. Sedang tenis meja langsung ditangani oleh wakil moderator, PJ Sandyawan Sumardi SJ.
Cabang olahraga khas yang diikuti semua siswa Kanisius, bola tangan, juga ditangani Pak Rudjito sendiri. Invitasi bola tangan hanya diadakan antar kelas karena di luar tak ada lawan bertanding. Sedang dalam cabang olahraga mendaki gunung, Kanisius mempunyai klub sendiri yang dinamai Kanistus Mountaineering (Kanimoun). Dari klub inilah Paido belajar mendaki untuk menaklukkan puncak Cartenz.
December 2012
1 post
November 2012
3 posts
Sama seperti yang ia katakan, bahwa aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
August 2012
1 post
Banda Neira adalah proyek iseng Rara Sekar & Ananda Badudu. Dulu ketika tinggal di Jakarta Rara Sekar adalah aktivis Hak Azasi Manusia di LSM Kontras. Kini ia hijrah ke Bali dan jadi pegiat sosial di organisasi non profit Kopernik. Kerjaanya, membagikan teknologi tepat guna untuk memberdayakan masyarakat di berbagai tempat. Sementara Ananda Badudu, dulu, kini, dan nanti adalah wartawan harian di Tempo. Kerjaanya, setiap hari keliling Jakarta mencari berita.
Siapapun tahu hidup di Jakarta akan terasa penat jika tak diselingi kegiatan-kegiatan menghibur diri. Oleh karena itu keduanya sepakat membentuk band. Formatnya sederhana saja, dua orang dan satu gitar. Kadang ada xylophone mainan nyempil. Atau impersonisasi terompet berhubung tak punya alat sesungguhnya. Meski formatnya dua orang, mereka menolak disebut duo, inginnya disebut band. Tak tahu pasti apa maksudnya.
Sejak terbentuk pada akhir Februari lalu, Banda Neira baru dua kali manggung dan sekali mengecap studio, yakni pada saat rekaman saja. Tapi latihan lumayan sering. Karena format sederhana, latihan pun bisa di mana saja. Bisa di atap kos-kosan, di ruang fitnes kedap suara, di warung sepi pengunjung, hingga rerumputan taman kota.
Tak disangka proyek iseng berlanjut terus. Pada suatu hari, sebelum Rara Sekar hijrah ke Bali, keduanya nekat menyewa studio Aru untuk merekam empat lagu yang mereka punya. Jadilah album EP (Extended Play) yang di kemudian hari dinamakan “Di Paruh Waktu”. Karena lirik lagu Banda Neira kebanyakan nelangsa, maka disebutlah genrenya nelangsa pop.
Kini Rara Sekar tinggal di Ubud, Bali, dan Ananda Badudu masih di Mampang Prapatan, Jakarta. Tapi katanya Banda Neira tidak vakum alias tetap jalan. Nanti mungkin ada lagu-lagu lain, yang kalau sudah PD akan ditaruh juga di soundcloud. Hehehe. Sekian ceritanya dan terimakasih telah berkunjung ke soundcloud kami.
Salam, Banda Neira
8 Agustus 2012*NP: Banda Neira adalah nama pulau yang berada di Maluku, bagian Timur Indonesia. Pada masa perjuangan kemerdekaan, beberapa pejuang dan bapak penemu bangsa sempat dibuang oleh Belanda ke sana. Di antaranya Sjahrir dan Hatta. Banyak cerita menarik yang ditulis Sjahrir tentang Banda Neira. Dari catatan hariannya orang bisa tahu ia tak merasa seperti orang buangan ketika diasingkan ke sana. Barangkali karena pulaunya luar biasa indah dan masyarakatnya menarik. Sementara Hatta sibuk baca buku, Sjahrir asik bermain dan mengajar anak-anak setempat. ”Di sini benar-benar sebuah firdaus”, tulisnya di awal Juni 1936. Dari pulau dan cerita inilah kira-kira nama band ini diambil.
Unduh di: http://soundcloud.com/bandaneira
Contact: di.banda.neira@gmail.com
percaya sama aku, ini harus di-download.
lovely!
July 2012
1 post
Nostalgia Hotel Des Indes
Spoken : Ini ada seboeah lagoe romantis.Kisah dari seorang priboemi.Dia itoe student jang verliefd
dengan satoe perempoean jang siapa dengan berkebetoelan dia djoempa di Hotel Des Indes.
Namoen sajang itoe pemoeda koetjiwa kerna dia poenja maoe terloepoet.
Semoga ini lagoe dapet menghiboer atie sekalian pendengar…………
Tempo sore berbintang diatas kota
Koe pigi ke Hotel Des Indes
Didalemnja ada soeatoe pesta ria
Sajang koe dateng sendirian.
Sasloki whiskey koe tegoek nie’mat
Di saloonnja Hotel Des Indes
Satoe perempoean aksie dandananja
Tersenjoem padakoe maloe maloe
Koeterpesona tiada berkata
Memandang seanteronja
Kepingin tanja siapa namanja ?
Adoeh koe telat.Ia poen liwat
Di itoe pesta,nona asjiek berdansa
Dengan ia poenja boyfriend
Achirja dapat koe tahoe siapa dia
Roepanja poetri resident
Spoken : Koe tahoe ia poen verliefd padakoe
Kerna ngelirik teroes dengan tersenjum
Hanja sampai disitoe
Kerna situatie memang begitoe
Akoe tak moengkin mendapatkannja
Nu ben ik minder,ik ben en inlander
Kapankah Ost indie djadi merdeka
Harapan orang priboemi
Lopeoetlah sudah si nona idaman
Poelang lah akoe sendirian*
*Trio Bebek, GSP,
June 2012
1 post
May 2012
7 posts
“don’t stop imagining, the day that you do is the day that you die”
April 2012
4 posts
February 2012
2 posts
![]()
![]()
Terminal Batubulan, Bali, 13 Juli 2011.
Strangers di pelabuhan ferry se-almamater yang baru saja menjadi sahabat.
Bimo - DKV’07 //Ramadhan a.k.a “Boker” - Kriya’07 // Vicky - MS’08
![]()
San Diego Hills, 10 Februari 2012.
![]()
Fan, gw nggak menyangka foto di Pulau Komodo liburan lalu ini menjadi foto bareng kita yang terakhir.
Dari jaman SMA ketika beberapa kali kita dateng pameran-pameran foto sewaktu kita masih hijau soal kamera, ketemu nggak sengaja di bus kota dan lo tidur mangap dengan sangat besarnya, ditangkep polisi di Kebun Raya Bogor, menikmati senja di Pantai Kalicaa, menjelajah kuliner kota Bandung, ngobrol sama Koen turis dari Belgia dibawah terang bulan ditengah selat Komodo setelah sebelumnya main kartu boong bareng Ellen dan kru kapal, bersama Made mengagumi Pink Beach-nya pulau Komodo, dari Denpasar naik sepeda motor ke pasar Sukowati, makan ribs babi di Ubud dimana cuma kita yang tampangnya dekil di resto itu, dan sampai Danau Batur dan cuma kedinginan di sana. Ini cuma segelintir memori yang mengalir baru saja.
Dari sini gw sadar, kita belum pernah ngobrol ataupun ketemu lagi sejak nganterin lo pulang duluan ke Jakarta dari Ngurah Rai, Juni tahun lalu.
Gw secara pribadi banyak belajar dari lo Fan, misalnya bagaimana menjadi seorang teman hingga bagaimana survive selama hampir sebulan keliling Jawa hingga Komodo dengan uang kurang dari 2 juta, sedangkan gw sama Made udah habis 2 juta lebih cuma 2 minggu. Semacam bakat bertualang, ngeteng, dan nebeng ada di diri lo Fan, ahaha.
Hok Gie pernah mengutip katanya,
Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda. Dan yang tersial, adalah mati tua. Berbahagialah mereka yang mati muda karena tidak mendapat kesialan dan penyesalan di hari tua,”
dan gw yakin ternyata selain lebih jago bertualang, ternyata lo lebih berbahagia dibanding kami disini. Lanjutkan petualanganmu disana Fan, disini teman-temanmu hanya bisa mengantarmu dengan devosi kepada Bunda Maria dan doa bersama lainnya, berharap yang terbaik.
Gw putarkan In Paradisum, spesial buat lo malam ini.
Dominus vobiscum, Fanka.
January 2012
6 posts
It was the pre-event of “Jornada Mundial de la Juventud Madrid 2011”, festival of faith.
Where I met young people from all over the world. Even we’re speak in different languages, we’re all have the same vocation.
The next posts are about Dies D’Acollida in my personal point of view (also the vibe of Barcelona). I will not tell you the details what was happened there, let the photographs talk. Hope you can feel the true happiness, tasting heaven on earth experience.

Viviu sempre alegres en el Senyor!
December 2011
16 posts
Dunia yang hijau tapi lucu.
Dunia yang kotor tapi indah.
Mungkin karena itulah saya telah jatuh cinta dengan kehidupan.
Dan saya akan mengisinya, membuat mimpi-mimpi yang indah dan membius diri saya dalam segala-galanya.
Semua dengan kesadaran.
Setelah itu hati rasanya menjadi lega.” —Soe Hok Gie (via yukonaosecond)