
The image above taken from EO-1 Advanced Land Imagery Satellite (May 6th, 2012), shows the remnant of montane forest in Java (deep green colored patch), under serious threat of anthropogenic impacts such as land cover change and illegal logging.
According to Van Steenis (Dutch Botanist, 1972), Mt. Papandayan was floristically rich, and it will be an irony of recorded history if all the forest destroyed without any effort to explore and understand the living treasure inside of it.
The final episode of the trilogy.
going in to the ship wreck (tulamben, bali)
Rasanya baru kemarin. Belum sampai setahun si kiri sudah asyik menjelajah Hutan Harapan mencari kodok, mau jadi sarjana kodok dia. Si tengah baru saja kembali ke Ganesha, setelah berhasil melihat anak-anaknya bertelur (baca: terumbu karang di Nusa Penida) malam-malam saat purnama. Si kanan masih saja berkutat di bangku, baca jurnal sampai mati bosan.
Penulis: A.W. Subarkah, Tabloid BOLA edisi no. 2, Jumat 9 Maret 1984
Reputasinya di Jakarta tak disangsikan lagi. SMTA Kolese Kanisius memang serba menonjol di segala bidang kegiatan siswa. Tidak hanya dalam mutu pelajarannya, tapi juga kegiatan olahraganya. Di bidang terakhir ini tak sedikit siswanya yang kemudian mencapai tingkat nasional.
Sandy Halim, misalnya, pemain voli nasional yang kini memperkuat klub Veni-Vidi-Vici, adalah alumnus Kanisius. Kemudian Paido, mahasiswa Fakultas Ekonomi UI yang berhasil mendaki puncak Cartenz, juga dari sana. Begitu pun atlet terbang layang Rudi Harto dan Dimitri.
Sementara Daniel Arif Budiman, perenang yang meraih enam medali emas nomor perorangan di Kejurnas Cibubur akhir tahun lalu, malah masih siswa di sekolah itu. Ia kini masuk pelatnas untuk persiapan ke SEA Games mendatang di Brunei.
Sekolah asuhan Pater Drs. Drost SJ itu kini mempunyai 700 siswa yang tersebar di 20 kelas. Semuanya pria. Jadi tak heran kalau saat lonceng istirahat berbunyi ramainya tak ketulungan, seperti pasar burung saja layaknya, kata sang Pater.

Berlatih serius di halaman yang sepi. (Dok. Tabloid BOLA)
Tut Wuri
Juga sekolah yang dipimpin Pater Drost ini punya cara sendiri dalam mengelola kegiatan ekstra kurikular. Untuk kegiatan olahraga, misalnya, siswa dibiarkan berinisiatif sendiri, termasuk memilih pelatih, sementara guru mendukung di belakang. Semacam tut wuri handayani-nya Taman Siswa, begitulah.
Tak kurang dari enam cabang olahraga dihidupkan di sini sebagai kegiatan ekstra kurikular. Di antaranya, bolabasket, voli, tenis meja, karate, taekwondo, dan bola tangan. Cabang olahraga lebih berat pun ada, seperti terbang layang dan mendaki gunung.
Setiap anak yang mengikuti kegiatan diharuskan membayar iuran Rp 1.000 sebulan untuk tiap kegiatan yang diminati. Ini diperlukan untuk membayar pelatih dan membeli peralatan. “Sebetulnya masih kurang, tetapi kekurangannya ditomboki sekolah,” ujar Pater FX Widyatmaka SJ yang bertindak selaku moderator para siswa.
Walaupun begitu, sekolah bukannya tidak mengalami kesulitan untuk mengatur kegiatan ini. Olahraga sore, misalnya, seringkali bentrok waktunya dengan praktikum. Mana yang didulukan? Olahraga atau praktikum? Jelas basket, voli, dan sebagainya itu hanya kegiatan ekstra. Jadi tak jarang olahraga sore distop sama sekali saat menjelang ujian atau ulangan umum.
Tetapi, di luar saat yang dua itu, kegiatan sore sedapat mungkin dipaksakan harus ada. Ini tak lain untuk menghindari gelagat kurang menguntungkan kalau siswa terlalu banyak punya waktu luang. Nongkrong tanpa kerja, ngebut di jalan umum, berkelahi, barangkali merupakan pemandangan klise yang mungkin terjadi di saat demikian. “Di sinilah peranan penting kegiatan sore - mengarahkan keisengan mereka,” ujar Pater Widya.
“Juga bagus buat orangtua. Mereka senang, tak perlu lagi mengawasi anak siang hari,” tambah Pater Drost.
Tak Ada Prioritas
Namun demikian, Pater Drost tak hendak mengekang sama sekali kebebasan siswanya. Menurutnya, siswa SMTA harus punya kebebasan orang dewasa karena mereka memang sudah dewasa. Karenanya, sekolah pun tak merintangi mereka untuk mengikuti
kegiatan di luar sekolah, asal yang positif.
Dengan ketentuan demikian, memang banyak siswa yang ikut klub di luar Kanisius. Di antaranya mereka ikut klub tenis, bulutangkis, dan klub-klub cabang olahraga lainnya. “Yah, itu kami anggap sebagai kegiatan di rumah. Sejauh dilakukan di luar jam sekolah dan tidak mengatasnamakan sekolah, kami kira tak menjadi masalah,” ujar Pater Widya.
Tapi ada satu hal penting yang perlu diperhatikan, sekolah tak akan memberikan prioritas apa pun bagi siswa yang menjadi juara dalam salah satu cabang olahraga. Tak akan mengangkat nilai mata pelajarannya di sekolah selain, mungkin, mata pelajaran olahraga. Inilah pendirian yang selama Ini dipegang teguh oleh sekolah-sekolah di semua kolese, baik De Loyola di Semarang, De Britto di Yogyakarta maupun Kanisius sendiri.
“Ketentuan ini diberlakukan untuk mendidik si siswa itu sendiri. Mereka harus belajar membagi waktunya antara pelajaran dan kegiatan ekstra. Dengan begitu akan tumbuh sikap menghargai waktu dan mampu memilih mana yang penting dalam hidupnya,” tambah Pater Widya.
Pelatih
Namun di balik keberhasilan sekolah ini membina kegiatan olahraga bagi siswanya, tentu pelatih juga ikut banyak menanamkan sahamnya. Seperti dikatakan sendiri oleh Pak Rudjito, pelatih yang sudah mengabdikan dirinya lebih dari dua puluh tahun di SMTA Kanisius. Peranan pelatih memang sangat menentukan.
“Anak-anak bisa saja main tanpa pelatih, tetapi mereka tak akan mencapai kemajuan. Untuk mengejar prestasi, diperlukan pelatih yang ahli di bidangnya,” kata Pak Rudjito.
Karenanya, Rudjito tak tanggung-tanggung menunjuk dua pelatih ahli untuk bolabasket. Kedua-duanya - Togar dan Saud - diambil dari klub Liga Bolabasket Utama (Gabatama) Indonesia Muda. Masing-masing dipekerjakan untuk melatih para siswa SMTP dan SMTA sekaligus.
Begitu juga untuk cabang olahraga beladiri. Johan Yamin, bekas siswa Kanisius angkatan tahun 1981 dari perkumpulan karate Goju Kai, masih diminta terus melatih di sana. Yamin memang seorang karateka yang tekun. Walaupun para siswa yang berlatih hanya sedikit, namun mahasiswa tingkat dua Akademi Teknik Komputer ini tak pernah absen dari acara latihan.
Selain memberikan latihan karate, ia juga mengajarkan cara penggunaan komputer kepada para siswa maupun guru yang berminat.
Tetapi untuk beberapa cabang olahraga, SMTA Kanisius ternyata masih kekurangan pelatih. Voli yang banyak digemari siswa masih dipegang sendiri oleh Pak Rudjito. Sedang tenis meja langsung ditangani oleh wakil moderator, PJ Sandyawan Sumardi SJ.
Cabang olahraga khas yang diikuti semua siswa Kanisius, bola tangan, juga ditangani Pak Rudjito sendiri. Invitasi bola tangan hanya diadakan antar kelas karena di luar tak ada lawan bertanding. Sedang dalam cabang olahraga mendaki gunung, Kanisius mempunyai klub sendiri yang dinamai Kanistus Mountaineering (Kanimoun). Dari klub inilah Paido belajar mendaki untuk menaklukkan puncak Cartenz.
Today, I claim, ecology is taking over more and more the role of a conservative ideology. Whenever there is a new scientific breakthrough, cyrogenic development, whatever, it is as if the voice that warns us not to trespass or violate a certain invisible limit - like “Don’t do that, it would be too much” - that voice is today more and more the voice of ecology. Like don’t mess with DNA, don’t mess with nature, don’t do it. This basic, conservative, archideological mistrust of change, this is, today, ecology.
- Slavoj Žižek - Examined Life